Selasa, 20 Oktober 2015

Kawat Hati


Sore itu...
aku kembali mengulum senyum sambil menggelengkan kepala setiap kali aku melintasi tempat itu. Konyol dalam batinku. Masih saja. kujulingkan mataku sembari memutar  ketika aku mengingatnya.
.
.
.
Sore itu, Percikan sinar dari lubang dedaunan diatas kepalaku, angin yang berbisik di telinga lalu beberapa pria dan wanita yang sudah baligh berlalu lalang dihadapanku. Aku tak ambil pusing, menurutku ini adalah aktifitas yang sungguh menenangkan. Sembari duduk di bawah pepohonan, ku sapa awan lalu batinku teriak "hey, aku tidak pernah se senang ini, sampaikan salamku untuk penciptamu ya!". Tempat yang kududuki memang kelihatan tidak teratur, sedikit berantakan dan letaknya yang berada di persimpangan jalan membuat aku dapat melihat semuanya, disitu terdapat tempat pengairan yang sudah kering, tidak berbau hanya saja berdebu. Bisa dibilang tempat ini adalah "tongkrongan". Aku menyukai tempat itu (dulu), disana teduh apalagi angin nya tenang, tidak berisik.
Terlebih waktu itu sosoknya menemaniku. Sosok yang pernah mengajakku duduk dan berbincang di tempat itu. Aku paling suka saat tempat itu sepi, tidak ada rombongan nya. hanya ada aku dan dia. menatap lurus lurus orang yang lewat, kemudian saling memandang dan tertawa. Pernah suatu hari, tempatnya seketika jadi ramai, aku menunduk, sebisa mungkin muka merahku tidak terlihat oleh rombongan nya. Yang pasti kami jadi canggung, seperti orang yang sedang 'tertangkap basah'. Beberapa detik berlalu ku coba membuat situasinya menjadi biasa saja. Rombongan nya tertawa, medengus dan mendesis ketika melihatku ada ditempat area mereka. Beberapa mencoba dekat dan ramah padaku, menanyakan aku dan perihal hubunganku dengan sosok itu. Aku hanya bisa diam mematung sesekali ikut tertawa dan menjawab seperlunya. Tak banyak yang tau seperti apa hubungan kami sebenarnya, dan akupun juga merasakan nya. Tak banyak yang aku tau perihal hubungan ku dengan sosok itu. Aneh. Padahal aku pemeran nya. Akupun jadi bahan gosip sebagian rombongan nya, sedangkan sebagian rombongan nya lagi sibuk dengan rokok dan asapnya, terlihat biasa saja. Aku hanya mematung sesekali pindah posisi, sedangkan sosok itu hanya ikut tertawa dan merasa nyaman dengan perlakuan rombongan nya. Sosok itu berdiri, berjalan disekitaran, duduk disampingku dan tangan nya memegang sesuatu yang aneh. Beberapa benda karat tua yang didapat dari sekitaran tempat duduknya. Sembari berbicara dengan aku dan rombongan nya, tangan nya memainkan kawat itu. Akupun tak mengurusi. Aku hanya sibuk dengan pikiran ku, membuat pertahanan diriku ketika rombongan nya sibuk mengerjaiku dengan pertanyan2 aneh. Sosok itu hanya tersenyum dan tertawa. Aku hanya bisa mendengus kesal. Kami menghabiskan sore bersama, mengenal rombongan nya tidaklah terlalu sulit. Aku hanya perlu membuang segala keseriusanku disana.
Aku mulai melihat, kawat kawat itu hampir jadi, membentuk simpul yang indah, hanya ada dua kawat yang saling melingkar, kemudian membentuk simbol. Aku sudah bisa menebak simbol itu. Hati bentuknya. Ketika hampir selesai, Sosok itu berceloteh panjang. Menjelaskan bahwa ketika benda itu jadi aku harus menambahi sedikit benda agar simbol itu bisa dipakai seperti gantungan misalnya. Aku tak sabar menunggu simbol itu jadi...
Ku pandangi simbol itu, meski tidak sempurna dan warna nya kusam karena dari kawat bekas, aku bahagia. Sosok itu memberikan simbol berbentuk hati itu kepadaku. Aku tak pernah sebahagia ini, justru hal yang sederhana seperti ini membuatku makin tergila gila kepadanya. Sosok itu tersenyum dan kami saling tatap. Kemudian senja mulai datang, kami pun pamit kepada rombongan untuk pulang. Aku masih ingat. Sosok itu menggenggam tanganku disepanjang perjalanan, Sesekali mengacak ngacak puncak kepalaku, atau mencekikku dengan lengannya. Menyisakan sebuah tawa dan senyuman bahagia.
.
.
.
Tanpa sadar aku hampir menabrak tiang didepan ku. Beginilah kalau ingat sosoknya. Beginilah kalau ingat waktu aku jadi gila karena cinta. Ku gelengkan kepalaku sekali lagi sembari mengucap syukur karena sosok itu pernah hadir didalam hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar